banner 728x250

Bima Arya Tekankan Pentingnya Data, Kepala Desa Diminta Kenali Potensi Wilayah

Wamendagri Bima Arya Sugiarto menekankan pentingnya kemampuan kepala desa membaca data dan mengenali potensi wilayah untuk menentukan program pembangunan yang tepat sasaran saat pembukaan KDMK Angkatan III di Universitas Sriwijaya, Palembang, Rabu (4/11/2026).
banner 120x600
banner 468x60

KLIKKALTENG, PALEMBANG – Pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan banyaknya program atau besarnya anggaran. Kepala desa harus mampu mengenali kondisi wilayah, membaca kebutuhan masyarakat, serta menggali potensi lokal agar setiap kebijakan memberikan manfaat nyata.

Hal tersebut ditekankan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, saat membuka kegiatan Kepala Desa Masuk Kampus (KDMK) Angkatan III di Graha Sriwijaya, Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (4/11/2026).

Bima menilai kemampuan membaca dan menganalisis data merupakan salah satu modal penting bagi kepala desa dalam menentukan arah pembangunan. Melalui data, pemerintah desa dapat mengetahui kondisi ekonomi warga, memetakan kebutuhan masyarakat, serta menentukan program yang sesuai dengan persoalan di lapangan.

Ia mencontohkan seorang Ketua RT di Jakarta Timur yang mampu mengembangkan berbagai inovasi lingkungan karena memahami kondisi dan kebutuhan warganya.

“Pak RT yang hebat tadi, itu jago membaca data-datanya, Pak. Dia petakan tingkat ekonomi warga, kemampuan seperti apa. Dia petakan kebutuhannya apa, akhirnya dibuat programnya,” tuturnya.

Menurut Bima, kepala desa juga harus memiliki visi, keberpihakan, dan prioritas yang jelas. Ketiga hal tersebut diperlukan agar pembangunan tidak berjalan tanpa arah dan tidak terjebak pada program yang hanya terlihat baik secara administratif.

“Harus dipilih [prioritasnya], mimpinya 20 [program], enggak mungkin 20 itu [dijalankan semua], Pak. Sepuluh [program berhasil] aja udah bagus, lima top kalau semuanya jalan. Visi, ideologi, dan prioritas, nah, di sini Bapak-Ibu,” katanya.

Ia turut mengingatkan agar kepala desa lebih mengutamakan substansi daripada kegiatan seremonial. Keberhasilan pemerintahan, menurutnya, harus diukur dari pelayanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Bima kemudian memberikan contoh Ari Anggara, Perbekel Desa Batuan, Kabupaten Gianyar, Bali. Meski menghadapi kondisi kas desa yang defisit, Ari tetap berupaya mengembangkan potensi lokal melalui kegiatan seni, kursus menari dan memahat bagi anak-anak, serta pengembangan wisata yang melibatkan masyarakat.

Contoh lainnya adalah Taufiq Supriadi Yusuf, Ketua RT 08/RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Jakarta Timur, yang mengembangkan penghijauan lingkungan, pembangkit listrik tenaga surya, CCTV terintegrasi, serta transparansi laporan keuangan.

“Pesan dari dua [contoh] ini adalah, kepemimpinan adalah segalanya, Pak. Kepemimpinan itu menentukan, Pak. Siapa pemimpinnya, apa yang dilakukan, maka itulah yang dirasakan oleh warga,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kemendagri, Bernhard E. Rondonuwu, menyampaikan bahwa program KDMK menjadi sarana pembelajaran untuk memperkuat kemampuan kepala desa dalam mengelola pemerintahan dan mengembangkan potensi wilayah.

Materi yang diberikan mencakup transformasi digital, kepemimpinan publik, inovasi pelayanan, pengembangan potensi desa, penguatan ekonomi, serta pembangunan berbasis data.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka peluang kerja sama antara kepala desa dengan perguruan tinggi, praktisi, dan sesama kepala desa dari berbagai daerah.

Kegiatan KDMK Angkatan III diikuti 255 kepala desa terpilih dari Provinsi Sumatera Selatan. Turut hadir Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Rektor Unsri Taufiq Marwa, para wakil rektor dan dekan Unsri, serta jajaran terkait. (Kkg/Sumber Foto : Puspen Kemendagri)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *