banner 728x250

Karhutla Ancam Kesehatan Generasi Muda, 91.913 Balita Tercatat Mengalami ISPA

Ilustrasi anak-anak sebagai kelompok rentan terhadap paparan polusi udara dan asap karhutla. Kementerian Kesehatan mencatat 91.913 balita mengalami ISPA dalam pendataan dampak karhutla di tujuh provinsi hingga 2 November 2026.
banner 120x600
banner 468x60

KLIKKALTENG – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menyisakan persoalan lingkungan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan generasi muda. Anak-anak, khususnya balita, menjadi kelompok yang membutuhkan perlindungan lebih ketika kualitas udara memburuk akibat paparan asap.

Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 91.913 balita mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam pendataan dampak karhutla di tujuh provinsi hingga 2 November 2026.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Balita dan anak-anak membutuhkan lingkungan dengan kualitas udara yang baik agar aktivitas sehari-hari serta proses tumbuh kembang mereka tidak terganggu oleh paparan polusi.

Selain balita, pendataan yang sama mencatat 87.704 kasus ISPA pada anak usia 6-9 tahun. Sementara kelompok lanjut usia di atas 60 tahun mencatat 56.092 kasus.

Kementerian Kesehatan juga memasukkan 590 ibu hamil dan 1.530 penderita asma dalam pemantauan risiko kesehatan. Data ini menunjukkan bahwa dampak kesehatan di tengah karhutla perlu ditangani dengan memperhatikan kebutuhan masing-masing kelompok rentan.

Persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan karhutla memiliki kaitan langsung dengan perlindungan kesehatan masyarakat. Ketika kebakaran terjadi dan asap menyebar ke kawasan permukiman, anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.

Orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan dengan membatasi aktivitas anak di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai, serta memperhatikan gejala gangguan pernapasan. Jika anak mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, atau kondisi kesehatan yang memburuk, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan.

Di tingkat pemerintah, upaya perlindungan tidak boleh hanya bersifat sementara. Pengendalian kebakaran, pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi kepada masyarakat, serta kesiapan layanan kesehatan harus berjalan beriringan.

Pemerintah daerah juga perlu memastikan sekolah dan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki pedoman penanganan ketika wilayahnya terdampak asap. Dengan demikian, perlindungan terhadap anak tidak hanya bergantung pada kewaspadaan keluarga, tetapi didukung kebijakan dan kesiapan pemerintah.

Tingginya jumlah balita yang tercatat mengalami ISPA menjadi peringatan bahwa dampak karhutla harus dilihat sebagai persoalan lintas generasi. Pencegahan kebakaran dan perlindungan kualitas udara merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan anak-anak saat ini maupun di masa mendatang.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *