KLIKKALTENG, Jakarta – Hari keempat Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) XVII 2025 menjadi momen pembuktian bagi program pembinaan olahraga tingkat sekolah di Kalimantan Tengah. Meski menghadapi klub dan kontingen dari provinsi besar, atlet-atlet pelajar Kalteng menunjukkan perkembangan teknik dan mental yang menonjol buah dari kerja keras pelatih dan dukungan ekosistem pembinaan di daerah.
Kontingen Kalteng yang berlaga pada cabang seperti pencak silat, taekwondo, panahan, panjat tebing, dan judo berhasil menarik perhatian. Keberhasilan pencak silat melaju ke semifinal dan raihan medali di taekwondo bukan hanya soal kemenangan di arena, tetapi cerminan investasi lama pada pelatih, sarana latihan di sekolah, dan program talent scouting sejak tingkat SMP/SMK.
“Kami melihat ada pergeseran pola pembinaan lebih sistematis dan kontinyu. Atlet-atlet muda kini mendapat pembinaan teknis dan mental sejak dini, ditambah exposure ke kompetisi regional yang rutin,” ujar Gusti, pelatih judo Kalteng, yang menyebut partisipasi judo di POPNAS sebagai titik awal pembinaan cabang ini di provinsi.
Dukungan dari pemerintah provinsi dan dinas terkait disebut sangat berperan. Fasilitas latihan, bantuan transportasi, hingga insentif bagi pelatih menjadi faktor penting agar atlet pelajar bisa fokus berprestasi. Wakil Ketua Kontingen Kalteng, Adi Nur Fajar, mengapresiasi perhatian tersebut dan berharap keberhasilan ini memantik tambahan dukungan untuk pembinaan berkelanjutan.
“Keberhasilan hari ini harus menjadi trigger. Jangan sampai momentum hilang setelah kompetisi. Perlu program lanjutan: pembinaan intensif, pendampingan gizi, dan kesempatan kompetisi lebih sering,” kata Adi usai menonton pertandingan pencak silat.
Selain keberhasilan, delegasi Kalteng juga mencatat beberapa tantangan: pembiayaan untuk latihan jangka panjang, keterbatasan fasilitas khusus di beberapa kabupaten, dan kebutuhan pelatih bersertifikat pada cabang baru seperti judo. Para pengurus mendorong sinergi antara sekolah, Dinas Pendidikan, Dispora, dan sponsor lokal untuk menutup gap ini.
Para pelatih menekankan pentingnya penguatan talenta di akar rumput: program penjaringan di sekolah, pelatihan pelatih lokal, dan kompetisi antar-sekolah yang lebih sering. Jika dijalankan berkesinambungan, pencapaian di POPNAS bisa menjadi batu loncatan bagi atlet Kalteng ke level regional dan nasional yang lebih tinggi.
Kontingen Kalteng menutup hari keempat dengan optimisme bukan hanya atas medali yang diraih, tetapi atas bukti konkret bahwa pembinaan olahraga berbasis sekolah sedang membuahkan hasil. Selanjutnya, fokus akan bergeser pada bagaimana mempertahankan dan mengembangkan talenta agar prestasi jadi tradisi, bukan kebetulan.


















