BANDUNG – Fenomena Supermoon terakhir di tahun 2025 kembali mencuri perhatian publik dunia. Supermoon yang dikenal dengan sebutan Cold Moon ini terlihat menghiasi langit di berbagai negara dan menjadi penutup rangkaian fenomena astronomi sepanjang tahun ini.
Disebut sebagai Cold Moon, penamaan ini berasal dari tradisi suku Mohawk, penduduk asli Amerika Utara, yang mengaitkan bulan purnama ini dengan datangnya musim dingin atau winter solstice. Pada fase ini, suhu mulai turun drastis di wilayah belahan bumi utara.
Secara astronomi, Supermoon terjadi ketika posisi Bulan berada sangat dekat dengan Bumi (perigee), sehingga tampak lebih besar dan lebih terang dibandingkan bulan purnama biasa. Fenomena ini menjadi momen langka yang selalu dinanti para pengamat langit.
Berbagai negara di Eropa, Asia, hingga Amerika melaporkan kemunculan Cold Moon dengan visual yang memukau, memperlihatkan bulan berwarna kekuningan hingga oranye saat berada dekat cakrawala.
Pengamat astronomi menilai Supermoon Cold Moon ini tidak hanya berdampak pada keindahan langit malam, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasang surut air laut, sebagaimana lazim terjadi pada fase bulan purnama.
Fenomena ini sekaligus menjadi Supermoon penutup di tahun 2025, sebelum umat manusia kembali menantikan rangkaian peristiwa astronomi baru pada 2026 mendatang.


















