JAKARTA – Arab Saudi tampil sebagai aktor utama dalam upaya diplomatik kawasan Teluk untuk meredam potensi konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Riyadh bersama Qatar dan Oman disebut aktif membujuk Washington agar membatalkan rencana serangan ke Iran, demi mencegah krisis energi global dan guncangan ekonomi internasional.
Laporan The Wall Street Journal (WSJ) menyebutkan, langkah Arab Saudi didorong kekhawatiran mendalam terhadap dampak eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Selain risiko keamanan regional, konflik terbuka dinilai berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia, khususnya melalui Selat Hormuz.
Selat strategis tersebut menjadi jalur vital sekitar seperlima pengapalan minyak global, sehingga setiap gangguan sekecil apa pun diyakini akan memicu lonjakan harga energi dan tekanan inflasi global.
Pasar Minyak Jadi Taruhan Utama
Negara-negara Teluk menilai bahwa serangan terhadap Iran, terlebih jika menyasar simbol kekuasaan di Teheran, berisiko memicu reaksi berantai yang sulit dikendalikan. Gejolak militer berpotensi mengganggu jalur tanker minyak, infrastruktur energi, hingga keamanan wilayah negara tetangga.
“Gangguan di Selat Hormuz bukan hanya isu regional, tetapi ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi dunia,” tulis WSJ, dikutip Kamis (15/1/2026).
Kekhawatiran ini semakin menguat setelah AS menginstruksikan sekutu-sekutunya di kawasan Teluk untuk bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi konflik, yang memicu kecemasan di ibu kota negara-negara produsen energi tersebut.
Arab Saudi Tegaskan Netralitas
Dalam upaya menjaga jarak dari konflik, Arab Saudi dilaporkan telah menyampaikan sikap tegas kepada Iran dan AS. Riyadh menegaskan tidak akan terlibat dalam konfrontasi militer dan menolak penggunaan wilayah udara maupun pangkalan militernya untuk serangan ke Iran.
Sikap ini dipandang sebagai strategi menjaga stabilitas domestik dan mencegah dampak konflik merembet ke wilayah kedaulatan negara-negara Teluk.
Selain aspek keamanan, Riyadh juga memperingatkan Washington agar tidak mengejar agenda perubahan rezim di Iran. Langkah tersebut dinilai berisiko menciptakan instabilitas jangka panjang yang justru merugikan kepentingan global, termasuk ekonomi AS sendiri.
Diplomasi Energi Menguat
Inisiatif Arab Saudi dan negara Teluk menandai semakin menguatnya diplomasi berbasis kepentingan energi di Timur Tengah. Di tengah ketegangan geopolitik, stabilitas pasar minyak menjadi prioritas utama bagi negara-negara produsen utama dunia.
Upaya menahan eskalasi konflik ini juga dinilai sebagai pesan kuat bahwa stabilitas kawasan Teluk kini tidak hanya ditentukan oleh kepentingan keamanan, tetapi juga keberlanjutan ekonomi global.


















