KLIKKALTENG, Kalimantan Timur –Pada Rabu (5/11/2025) pukul 17.37 WIB, wilayah Kota Tarakan di Provinsi Kalimantan Utara diguncang gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 4,8. Episenter gempa tercatat berada di laut, sekitar 24 kilometer tenggara Tarakan dengan kedalaman 10 kilometer.
Meskipun gempa terjadi di luar provinsi Kalimantan Tengah, dampaknya memberikan sinyal penting bagi warga dan pemerintah di wilayah Kalteng bahwa kewaspadaan terhadap guncangan tektonik di wilayah Kalimantan bukanlah sesuatu yang boleh diabaikan.
Guncangan selama sekitar lima detik dirasakan kuat di beberapa bagian Kota Tarakan, terutama Kecamatan Tarakan Barat, Kelurahan Karang Rejo, dan Kelurahan Mamburungan.
Laporan sementara mencatat kerusakan sejumlah bangunan dua rumah rusak berat, dua rumah rusak sedang, tiga pusat perbelanjaan terdampak, satu rumah sakit RS Yusuf SK Tarakan serta kegiatan di bandara Bandara Juwata Tarakan terganggu.
Walaupun gempa terjadi di wilayah Kalimantan Utara, kejadian ini mengingatkan pentingnya beberapa hal berikut bagi Kalteng:
1. Infrastruktur bangunan publik dan fasilitas vital (rumah sakit, sekolah, fasilitas umum) perlu dipersiapkan untuk menghadapi gempa dangkal.
2. Pemerintah daerah dan masyarakat mesti memperkuat sistem peringatan dini dan evakuasi darurat meskipun wilayah Kalteng belum dilanda gempa besar baru-baru ini, potensi tetap ada.
3. Koordinasi antar-provinsi menjadi penting: kejadian di Tarakan mengingatkan bahwa lintas provinsi pun bisa terdampak dan membutuhkan solidaritas penanggulangan kebencanaan.
Sekretariat Nasional BNPB mengimbau warga Tarakan dan sekitarnya agar tetap tenang, tidak panik, dan memantau informasi resmi dari BMKG, BPBD, serta instansi terkait.
Pemerintah daerah Kalteng disarankan meninjau ulang kondisi bangunan rawan gempa dan memperkuat pemahaman publik tentang “kitabelajar gempa” agar warga tidak hanya bereaksi saat terjadi gempa, tetapi sudah siap sebelumnya.
Masyarakat di Kalteng diharapkan tidak lengah hanya karena gempa terjadi di provinsi tetangga kewaspadaan dan kesiapsiagaan tetap harus terjaga.
Peristiwa gempa di Tarakan menjadi pengingat bahwa Kalimantan sebagai wilayah yang berbatasan laut dan banyak permukiman pinggir sungai tetap memiliki risiko gempa dangkal. Kejadian ini sebaiknya dijadikan momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, penguatan infrastruktur, serta koordinasi antardaerah.
Mari gunakan momen ini untuk memperkuat sistem dari “reaksi setelah gempa” menjadi “persiapan sebelum gempa”.


















